Jombang, JejakJurnalis.co.id – Kasus dugaan penahanan ijazah di Yayasan Pendidikan Budi Utomo (YPBU) Gadingmangu, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, kembali memunculkan kisah menyentuh dari para wali murid.
Salah seorang wali murid mengungkapkan bahwa anaknya diduga mengalami stres akibat terus memikirkan ijazah SMK miliknya yang belum dapat diambil sejak lulus pada tahun 2021.
Kisah tersebut disampaikan saat sejumlah wali murid kembali mendatangi Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Jombang pada gelombang kedua pengaduan, Jumat (22/5/2026). Dua perempuan hadir sebagai perwakilan di Kantor DP Jombang di Jalan R Soedirman (eks Jalan Pattimura), membawa persoalan beberapa siswa, termasuk anak mereka, yang ijazah pendidikannya disebut masih tertahan oleh pihak sekolah maupun yayasan.
Dari total tujuh anak yang diadukan, dua di antaranya disebut mengalami dampak cukup besar akibat belum diterimanya ijazah SMK mereka.
Salah satunya ialah ML, lulusan SMK di bawah naungan YPBU tahun 2021. Menurut sang ibu, anaknya sempat memiliki keinginan bekerja sesuai bidang yang dipelajari di sekolah, yakni mekanik mobil. Namun harapan tersebut tidak dapat terwujud karena belum memiliki ijazah.
“Dia kepikiran terus, sampai depresi. Dia selalu bilang, saya ini lulusan mekanik mobil kok kerjanya jualan bakso. Terus sering tanya, kapan ijazahnya diambil, Bu?. Begitu terus,” cerita wali murid itu mengenang.
Ia menuturkan, kondisi mental anaknya semakin menurun seiring waktu.
Saat ini, anaknya disebut lebih banyak diam di rumah dan tidak lagi menjalankan aktivitas seperti biasanya.
“Sekarang anak saya sakit di rumah. Tidak bisa berbuat apa-apa. Ke kamar mandi saja harus diantar. Tidak salat, tidak melakukan apa-apa,” katanya.
Sang ibu mengatakan dirinya sempat membawa anaknya menjalani pemeriksaan ke dokter di wilayah Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Namun karena keterbatasan ekonomi, pengobatan tidak dapat dilanjutkan.
“Saya sudah bawa berobat ke dokter dan Puskesmas, tapi belum ada perubahan. Sekarang sudah tidak berobat lagi karena tidak ada biaya,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, ada satu hal yang membuatnya merasa sedih. Ia mengaku anaknya sering memeluk serta menatap piagam yang pernah diperoleh saat sekolah.
“Dia punya piagam, itu masih dipeluk dan dipandangi terus sama dia. Mungkin dia kira ijazah,” katanya lirih.
Tidak hanya ML, kisah serupa juga dialami MK, lulusan SMK YPBU tahun 2020. Meski tidak mengalami kondisi seberat ML, ia juga merasakan dampak dari belum diterimanya ijazah.
Saat ini MK bekerja sebagai tenaga angkut barang di salah satu perusahaan jasa pengiriman.
Menurut ibunya, pekerjaan tersebut dijalani karena anaknya tidak memiliki banyak pilihan, terutama karena sulit mendapatkan pekerjaan tanpa ijazah.
“Ya karena gak ada pilihan lagi, akhirnya bekerja di situ sebagai buruh angkut barang,” ujarnya.
Ia mengaku merasa sedih melihat kondisi anaknya. Namun, dirinya hanya dapat berharap dan mendoakan agar anaknya dapat berkembang di perusahaan tersebut meski harus memulai dari posisi bawah.
“Pernah sampai kejatuhan kulkas waktu kerja angkat barang, sampai dadanya sakit,” ungkap sang ibu.
Ia juga mengatakan telah beberapa kali mendatangi sekolah maupun yayasan untuk mencari jalan keluar terkait ijazah anaknya. Namun menurutnya, upaya tersebut belum mendapat tanggapan yang diharapkan.
“Orang kita datang saja tidak dipedulikan, gimana mau bicara banyak,” ujarnya.
Sementara itu, Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Jombang sebelumnya menegaskan akan terus mengawal persoalan dugaan penahanan ijazah di YPBU Gadingmangu. Hal itu karena ijazah dinilai sebagai dokumen penting yang berkaitan dengan jenjang pendidikan seseorang. (Red)
Editor : Ade






